Pengalaman pergi ke Jepang

Ini pertama kalinya saya datang ke Jepang. Tanggal 22 September 2013 pagi hari waktu Jepang tepatnya kaki saya menginjak daratan Jepang.  Berikut merupakan pengalaman saya selama berada di Jepang. Ini kisah selanjutnya dari tulisan saya sebelumnya di link ini.

22 September 2013, Tiba di Tokyo
Saya tiba di bandara Haneda Jepang jam setengah enam pagi waktu Jepang. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi, Kami sekeluarga menunggu adik saya menjemput di bandara untuk mengantar kami ke penginapan. Sebelum datang ke Jepang sebelumnya adik saya sudah menyewa apartemen untuk tempat kami menginap. Biaya menginap di apartemen tentunya lebih murah dibandingkan menginap di hotel. Adik saya sudah beberapa tahun berada di Jepang untuk kuliah di Universitas tokyo. Kami datang ke Jepang memang untuk menghadiri acara wisuda S2 adik saya ini.


 Setelah adik saya datang kami segera melanjutkan perjalanan ke penginapan. Dari bandara Haneda ini kami bisa menggunakan transportasi monorel dan kemudian melanjutkan ke jalur kereta biasa  (Japan Railways) menuju ke stasiun Otsuka Tokyo. Kereta di Jepang sangat nyaman dan lebih murah dibanding naik transportasi lain. Apartemen yang kami sewa ada di Minamiotsuka, Toshima, Tokyo, Jepang. Jaraknya hanya 5 menit dari Stasiun Otsuka, Tokyo.


Datang ke Jepang, kami melihat suasana yang sangat berbeda dengan Indonesia. Saat itu udara di Jepang sangat sejuk sekitar 23 derajat Celcius. Mirip seperti berada di puncak. Tidak ada debu dan polusi seperti di Jakarta. Kotanya juga bersih tidak ada sampah yang berserakan. Gedung-gedung lebih ramping dan rapi. Jalanan lebih sepi tidak banyak kendaraan roda dua. Mobil juga jarang kami lihat. Jalanan lebih lenggang.

Sampai di stasiun Otsuka, kami tidak langsung ke apartemen. Kami beristirahat dulu ke starbuck Jepang menghilangkan pegal sebentar sebelum berjalan kaki ke Apartemen. Sambil minum kopi dan melihat suasana Jepang. Melihat orang Jepang juga menjadi pemandangan tersendiri. Jalan mereka sangat cepat bahkan ada yang berlari. Nenek-nenek dan kakek-kakek juga berjalan sangat cepat. Kulit orang Jepang bersih-bersih tapi tidak semuanya putih seperti yang kita bayangkan ada juga yang berwarna coklat seperti orang Indonesia. Pakaian mereka juga rapi dan banyak perempuan yang memakai rok mini. Anak mudanya lebih suka memainkan gadget dibanding mengobrol dengan teman disebelahnya. Mereka juga sangat tertib dan senang mengantri.

Apartemen yang kami sewa letaknya juga dekat dengan Mesjid Otsuka. Ya.. ternyata di Jepang juga ada Mesjid. Mesjid Otsuka sebenarnya lebih mirip Mushalla karena sangat kecil dan bentuknya seperti ruko. Kelihatannya mesjid ini bertingkat tiga. Yang di bawah untuk wanita, pria di tingkat dua dan ada satu tingkat lagi di atasnya. Walau ada di Jepang, mesjid ini kebanyakan jemaahnya merupakan imigran dari Arab dan Afrika. Mereka sangat ramah dan mengucapkan salam ketika berpapasan dengan  kami. Kami menyempatkan shalat dhuhur dulu di mesjid ini sebelum ke Apartemen karena Apartemennya masih belum siap dan sedang dibersihkan. 

Setelah siang kami segera menuju Apartemen. Di sekitar Apartemen sangat tenang dan bersih. Di sekitar apartemen ada banyak toko makanan, minimarket  dan juga mesjid. Apartemennya memang tidak mewah beda dengan apartemen di Jakarta yang biasanya sangat mewah. Kamar kami ada di lantai tiga. Sampai di kamar, kami langsung membuka isi tas kami dan beres-beres sebentar kemudian istirahat karena lelah.

23 September 2013,  jalan-jalan ke Kota Takasaki, Gunma-ken
Besok harinya, kami berkunjung ke Kota Takasaki, gunma-ken untuk berkunjung menemui teman adik saya yang orang Jepang dan juga pembimbing penelitiannya selama di Jepang. Gunma-ken adalah prefektur Jepang. Prefektur itu mirip provinsi di Indonesia. Dari stasiun Otsuka ke Gunma-ken dengan naik kereta kira-kira ada dua jam.

Kereta di Jepang saat itu sangat sepi padahal hari itu adalah hari Senin. Ternyata tanggal 23 September 2013 merupakan hari libur Jepang yaitu hari Autumnal Equinox Day. Autumnal Equinox Day yaitu tanggal tanggal 23 September matahari bergeser dari belahan utara ke belahan selatan dan menandai datangnya musim gugur. Saat itu juga jumlah waktu siang dan malam adalah sama. Berbeda dengan di Indonesia yang jumlah waktu siang dan malamnya sama setiap saat namun di Jepang, jumlah waktu siang dan malamnya biasanya berbeda. Kadang waktu malam lebih panjang dari siangnya atau sebaliknya.


Sampai Gunma-ken kami melihat suasana pedesaan dimana masih ada pertanian di tempat itu. Dari kereta, kami bisa melihat sawah-sawah padi dan kebun sayuran yang tersusun rapi diantara rumah-rumah penduduk. Sampai di stasiun, Kami dijemput teman adik saya dengan mengendarai mobil untuk mengantar kami melihat Takasaki. Kota Takasaki sangat rapi. Kotanya memang lebih sepi dari Tokyo tapi suasananya lebih nyaman. Jalan-jalannya bersih dan terlihat banyak burung gagak dimana-mana. Bahkan masih ada sawah yang bisa kami temui di antara rumah. Di sana kami juga mengunjungi mall kecil yang berada di kota itu. Teman-teman adik saya sangat ramah bahkan pembimbing Adik saya itu sampai membawa keluarganya untuk menemui kami. Kami terkesan dengan keramahan orang Jepang. Setelah puas berkunjung ke Takasaki, kami segera kembali ke Tokyo.

24 September 2013, jalan-jalan ke Tokyo Disney Sea
Jika ke Jepang tapi tidak ke Disney resort maka akan ada yang kurang. Ada dua pilihan tempat Disney resort di Jepang, yaitu Tokyo Disneyland dan Tokyo Disney Sea. Kami memilih untuk ke Tokyo Disney Sea yang memang khusus untuk orang dewasa dibandingkan dengan Tokyo Disneyland yang lebih untuk ke anak-anak. Tanggal 24 September 2013 kami ke  Tokyo Disney Sea dengan naik kereta. Ya lagi-lagi naik kereta. Transportasi di Tokyo memang lebih enak naik kereta. Hampir semua tempat di Tokyo bisa kita jelajahi dengan naik kereta.

Harga tiket ke Tokyo Disneysea saat itu sebesar 6200 yen per orang kalau dikonversi ke rupiah sekitar 700 ribuan.  Cukup mahal ya.. Ya mungkin karena wisata ini begitu banyak area hiburannya dan memang sudah terkenal di seluruh dunia. Beberapa area yang bisa dinikmati di Tokyo Disneysea yaitu American Waterfront, Arabian Coast, Lost river delta, Mediterranean harbor, Mermaid lagoon, Mysterious Island, dan Port discovery.



Wilayah Disney Sea ini cukup luas dan arsitektur bangunannya sangat menarik. Kita bisa melihat gunung buatan yang sesekali menyemburkan api, replika venesia, replika Amerika zaman Cowboy, kapal laut kolonial, kastil, istana aladin dsb. Kami datang ketika itu sedang ada Disney's Hallowen sehingga tempat itu dipenuhi hiasan dengan Tema hallowen. Saat itu kami juga menyaksikan pertunjukkan live Hallowen carnival. Tidak jelas jalan ceritanya karena menggunakan bahasa Jepang. Namun kami melihat para penari yang memakai kostum tengkorak. Ada juga yang memakai kostum donald bebek, Deasy duck, Gufi, Mickey, Mini Mouse, Pluto dan tokoh Disney lainnya. Jadi ingat masa kecil dulu... Mereka semua menari dan bernyanyi. Pertunjukan ini juga disertai pertunjukan di atas laut dengan perahu-perahu yang dihias. Ada juga pertunjukan akrobat boat oleh pemakai kostum tengkorak. Bahkan permainan layang-layang juga ditampilkan. Pertunjukan yang cukup menghibur terutama untuk anak-anak.

Kalau tidak ingin lelah berkeliling di DisneySea bisa Naik Disneysea transit steamer line. Sebuah kapal berkapasitas 49 orang. Kapal laut kecil itu akan mengajak kita berkeliling lewat air dari Dock di the Lost River Delta dock sampai Mediterranean Harbor.  Naik kapalnya hanya sebentar hanya berkisar 6 menit. Selain itu kita juga bisa naik DisneySea Electric Railway yang merupakan kereta listrik dengan bentuk yang unik khas Disney berkapasitas 42 orang. Berkeliling menaikinya seperti kita menjelajahi dunia Disney seperti didalam film kartunnya. Tidak semua tempat di Disney Sea kami kunjungi namun kunjungan itu memberi pengalaman baru kami di tempat wisata menarik yang belum kami pernah lihat suasananya. Sore harinya kami pulang kembali ke penginapan kami sambil meninggalkan kesan yang tidak akan kami lupa dengan pengalaman kami berwisata di DisneySea.

25 September 2013, Istirahat di Apartemen
Hari Rabu, 25 September kami hanya berada di apartemen. Saat itu memang di Tokyo sedang hujan deras seharian jadi kami tidak pergi kemana-mana. Kamar Apartemen ini memang tidak terlalu luas namun cukup nyaman.  Ruangannya dilengkapi kamar timur, ada ruangan dapur, ruang cuci baju dan ruangan kamar mandi.  Sebuah ruangan dengan Japanese style apartment. Untuk tidur sudah ada sofa bed yang bisa diubah jadi tempat tidur untuk 2 orang. Juga apartemen itu sudah disediakan 3 futon semacam kasur lipat khas Jepang.

Di Apartemen ini seperti berada di rumah. Kami bisa cuci baju sendiri, masak sendiri layaknya di rumah. Dapur sudah dilengkapi kompor gas, microwave, pemanggang roti, rice cooker serta peralatan masak seperti panci, penggorengan, piring dll. Dari Jakarta kami memang sudah menyiapkan daging rendang dan mie instant. Lumayan untuk menghemat biaya makan selama di Jepang. Untuk beras kami beli di minimarket yang dekat di apartemen ini. Beras Jepang memang enak lebih lengket tapi tidak selengket ketan. Selain masak sendiri juga terkadang kami membeli makanan di luar. Tentunya harus hati-hati karena tidak mudah mencari makanan halal di Jepang. Biasanya kami memilih makanan ikan dibanding daging. Di Jepang banyak restoran yang menyediakan makanan dari ikan.

Selama di apartemen tentunya saya yang biasa ngeblog menyempatkan diri menulis lewat laptop adik saya. Di apartemen memang disediakan internet gratis lewat WIFI. Internetnya lumayan cepat bahkan mau nonton video lancar dan tidak buffering . Kami juga bisa nonton TV Indonesia dari Jepang lewat streaming. Streaming untuk TV Indonesia bisa lewat akses web okezone.tv untuk menonton streaming RCTI, MNC TV dan global TV dan mytrans TV untuk Trans TV dan Trans 7.  Alamat streaming tv bisa dilihat di link ini.  Seharian kami berada di apartemen. Sebenarnya ingin pergi keluar tapi hujan seharian membuat kami malas keluar. Udaranya juga saat itu menjadi lebih dingin dari biasa.


26 September 2013, Tokyo Skytree

26 September 2013, kami ke Tokyo Skytree. Tokyo Skytree ini merupakan salah satu menara tertinggi  nomor dua di dunia setelah Burj Khalifa.  Tokyo Skytree ini memiliki ketinggian 634 m. Menara yang baru selesai tahun 2012 ini memang layak dikunjungi jika kita ingin pergi ke Jepang.

Untuk pergi ke Tokyo Skytree kami tidak pergi melalui stasiun Otsuka. Kali ini kami ingin coba naik subway Jepang (Tokyo Metro). Untuk ke stasiun subway juga tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap. Hanya butuh beberapa menit saja berjalan kaki.


Ketika kami tiba di Tokyo Skytree, sayangnya suasana langit sangat mendung. Namun begitu, tidak menghalangi kami untuk menikmati pemandangan. Kami memang tidak berniat untuk naik ke menara itu karena disamping harga tiketnya yang mahal sekitar harga tiket ¥1,000 sampai 2000-an, kami juga hanya sebentar saja ada di loaksi itu karena besoknya adik saya harus menyiapkan segala sesuatunya untuk acara wisudanya besok.

Tokyo Skytree begitu menjulang tinggi. Harusnya kami memang mencari lokasi yang rada jauh untuk mencoba mengambil foto menara itu. Sangat sulit kalau ingin memfoto Skytree dari dekat. Kami berfoto-foto di kaki menara Skytree ini. Lokasi didekat Skytree juga bisa menjadi wisata tersendiri. Disitu juga ada sungai kecil yang sangat bersih. Kami turun ke dekat sungai itu dan berjalan di jalan setapak di pinggir sungai itu sambil menikmati udara sejuk kota Tokyo. Sungai di Tokyo ini memang dilengkapi jalan setapak di pinggirnya jadi wisatawan bisa menikmati berjalan-jalan di pinggir sungai. Sebentar saja kami di skytree ini kemudian kami kembali ke penginapan.



27 September 2013, hadir di acara wisuda di Universitas Tokyo
Ini sebenarnya tujuan utama kami ke Jepang yaitu menghadiri wisuda S2 adik saya. Adik saya kuliah di Universitas Tokyo yang merupakan Universitas peringkat satu di Asia dan peringkat 20-an di dunia.  Universitas Tokyo ini sangat tua sudah berdiri sejak tahun 1877. Banyak orang asing yang menimba ilmu di Universitas ini. Saya lihat banyak wisudawan yang berasal dari negara lain seperti China, Vietnam, Pakistan, Eropa dsb.. Orang Indonesia juga banyak kuliah di Universitas Tokyo ini.

Adik saya menyewa baju toga di The University of Tokyo Co-op shop. Jika membeli sendiri agak mahal dan untungnya penyewaan seperti ini bisa menghemat biaya. Acara wisuda di Universitas Tokyo cukup sederhana. Diawali dengan acara musik biola kemudian pidato dari beberapa pimpinan Universitas. Kemudian penyerahan sertifikat yang diwakili beberapa mahasiswa/i.  Setelah acara wisuda, para wisudawan berfoto-foto di sekitar kampus bersama keluarga. Kami juga ikut berfoto bahkan kami ikut berfoto bersama para dosen dan professor yang mengajar adik saya. Kami bersyukur akhirnya adik saya bisa menyelesaikan S2 dan mendapat gelar master enginering dari Universitas Tokyo. Setelah selesai S2 ini adik saya langsung melanjutkan S3 di Universitas yang sama. Jadi nantinya dia tidak ikut pulang bersama kami ke Jakarta.

Selesai acara wisuda, saya bersama ayah saya shalat Jumat bersama para mahasiswa muslim Universitas tokyo. Shalat Jumat diadakan para mahasiswa di sebelah ruangan tempat latihan musik. Ada ruangan khusus yang diperuntukkan untuk Shalat bagi mahasiswa muslim. Cukup banyak juga mahasiswa muslim di Universitas tokyo ini yang kebanyakkan memang merupakan mahasiswa asing. Selesai shalat kami segera kembali ke penginapan untuk menyiapkan segala sesuatunya karena besoknya kami akan segera kembali ke Jakarta.











28 September 2013, Pulang ke Jakarta
Tanggal 28 September 2013, kami menuju ke bandara Internasional Narita.  Jika waktu tiba kami lewat bandara Haneda, ketika pulang kami akan melalui Bandara Narita. Kami terbang dari Bandara Narita sekitar jam 8 malam menggunakan Singapore Airlines. Seperti seperti waktu berangkat, kami terlebih dahulu transit di Singapura sebelum kemudian melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Akhirnya tiba juga kami di Jakarta hari Minggu pagi tanggal 29 September 2013. Kami pulang ke Jakarta sambil mengingat kenangan kami selama di Jepang. Memang hanya seminggu tapi itu jadi pengalaman berharga bagi kami.

Pengalaman berangkat ke Jepang dengan transit di bandara Changi Singapura

Berangkat dari Bandara Sukarno Hatta

Posting ini merupakan pengalaman saya ketika pertama kali pergi Ke Jepang. Sabtu tanggal 21 september 2013 kami berangkat ke Jepang dengan menaiki Singapore Airlines  dari bandara Sukarno Hatta. Saya berangkat bersama kakak dan ayah saya. Sampai di bandara Sukarno Hatta, barang bawaan kami diperiksa melalui pemeriksaan X-ray. Sedangkan kami juga diperiksa dengan melewati Walk Through Metal Detector setelah sebelumnya harus melepas jaket dan jam tangan serta ponsel yang dibawa di saku. Setelah itu kami mencari area Check in Singapore Airlines di bandara Sukarno Hatta untuk Check in. Di  Check IN Counter Singapore Airlines di bandara, kami menyerahkan barang bawaan kami yang akan ditaruh di bagasi. Barang bawaan yang ditaruh di bagasi merupakan barang bawaan tas travel yang berat berisi makanan dan pakaian. Barang bawaan untuk bagasi hanya boleh seberat 20 kg per orang. Sedangkan tas kecil boleh dibawa ke kabin pesawat.  Untuk paspor dan identitas kita taruh di tas kecil dan harus selalu dibawa. Setelah proses di Check in Counter kita akan menerima Boarding Pass berbentuk selembar kartu.

Setelah check in, kami menuju pemeriksaan Imigrasi dengan menyerahkan paspor untuk distempel petugas. Dari situ kami langsung menuju pintu gate atau pintu keberangkatan penerbangan yang tertera di boarding pass. Sebelum ruang boarding kami diperiksa kembali melewati security check lagi dengan X-ray dan detektor logam. Kali ini kami harus melepaskan sepatu dan jaket untuk diperiksa di X-ray.  Tas, jam, sepatu dan ponsel dimasukan ke nampan khusus untuk diperiksa mesin Xray. Karena tidak ada masalah kami boleh melanjutkan untuk masuk ke ruangan boarding menunggu pesawat kami. Sambil menunggu pesawat tiba, kami shalat Ashar terlebih dahulu di ruangan boarding Bandara Sukarno Hatta. Di ruangan boarding ini memang ada ruangan khusus untuk shalat.

Kami berangkat dari Jakarta dengan pesawat jam 5 sore. Pesawat Singapore Airlines yang kami naiki tidak langsung menuju ke Jepang melainkan kami harus transit dulu di Singapura. Hanya dalam waktu kurang 2 jam saja pesawat sudah mendarat di Singapura dari Jakarta. Cukup cepat juga. Pantas saja banyak orang Indonesia yang berwisata ke Singapura karena hanya butuh waktu sebentar saja ke singapura dengan pesawat.


Pengalaman transit di Bandara Changi Singapura

Pesawat mendarat di Singapura jam setengah delapan waktu Singapura. Kami mendarat di terminal 1 bandara Changi Singapura. Dan pesawat berikut yang harus kami naiki ada di terminal 3 yang berangkat jam 21.30 waktu Singapura. Untungnya di Singapura ada Skytrain semacam kereta monorail untuk menuju terminal 3 yang bisa kami naiki secara gratis. Jadi sempat juga kami melihat pemandangan Singapura walau hanya dari bandara saja. Bandara Changi Singapura cukup besar dan mewah dengan lantai yang diselimuti karpet.


Di bandara Changi kami lihat banyak orang Indonesia juga. Sepertinya memang orang Indonesia sering berwisata ke Singapura. Ada juga yang sekedar transit seperti kami. Bandara Changi Singapura sangat luas. Bandaranya dilengkapi dengan banyak toilet dan tempat makan. Ada juga tempat berdoa atau prayer room yang bisa kita gunakan sebagai tempat Shalat di Bandara Changi Singapura.
Di bandara Changi juga ada taman buatan lengkap dengan kolam ikan. Untuk makan ada beberapa restoran di dalam bandara Changi. Ada restoran nasi lemak dan bahkan restoran siap saji mc Donalds juga ada di bandara ini. Ada juga toko-toko souvenir. Di dekat kursi tempat tunggu juga disediakan kursi pijat gratis. Lumayan kalau kita pegal-pegal bisa mencoba kursi pijat ini. Ada juga internet gratis yang bisa diakses melalui komputer yang disediakan di beberapa tempat. Sayangnya internet gratisnya hanya boleh dipakai tiap orang 15 menit saja.


Sampai di terminal 3, Kami segera menuju ruangan boarding untuk menunggu pesawat kami ke Jepang. Sebelum ke ruangan boarding kami diperiksa dulu oleh petugas. Tas kecil yang kami bawa harus masuk ke x-ray. Kita juga harus menunjukkan paspor dan boarding pass kita. Kami juga harus melewati semacam detector logam. Ruang tunggu boarding di bandara Changi cukup luas dan juga lantainya dilapisi karpet. Ruang boarding juga dilengkapi toilet yang bersih. Sebelum terbang sebaiknya buang air kecil dulu di toilet ini karena penerbangan nanti akan lama. Di pesawat memang ada toilet juga namun tidak senyaman di toilet biasa. Setelah menunggu, akhirnya Jam 21.30 waktu Singapura kami kembali naik pesawat Singapore Airlines yang menuju Jepang.


 Terbang dari Bandara Changi Singapura ke Bandara Haneda Jepang

Penerbangan dari Singapura ke Jepang cukup lama sekitar 7 jam. Untungnya di pesawat kami mendapat makanan jadi tidak perlu takut kelaparan. Ketika memesan tiket pesawat sebelumnya kami sudah memesan makanan khusus muslim meal yaitu makanan halal untuk muslim. Kami mendapat dua kali makan di pesawat ini dan makanannya lumayan enak. Kami juga diberi makanan kecil dan es krim magnum. Kami juga boleh minta minuman dengan banyak pilihan. Mau air putih, teh, kopi, minuman soda, Juss buah atau bahkan wine. Tapi karena wine haram bagi kami kami hanya minta minuman yang lain.


Berada di pesawat berjam-jam tentu membosankan. Untuk menghilangkan bosan kita bisa menonton film yang disediakan maskapai di pesawat. Pada tiap kursi di pesawat Singapore Airlines ada layar tv kecil. Ada banyak pilihan film Hollywood atau film Asia yang bisa ditonton.  Pelayanan yang cukup baik dari Singapore Airlines padahal kami ada di kelas ekonomi. Terbang dengan waktu 7 jam membuat kami pegal, dan lelah. Tapi kami tentunya harus bersabar.  Karena di pesawat sudah ada waktu subuh tapi kami belum mendarat maka kami melakukan shalat Shubuh sambil duduk di pesawat. Wudhunya dengan tayamum saja. O.iya sebelum mendarat di Jepang, kami diberikan lembar kertas berisi form isian oleh pramugari di pesawat untuk diserahkan ke petugas imigrasi. Isiannya berupa data kita dan pertanyaan berapa lama kita di Jepang dan beberapa data lainnya.

Minggu 22 September 2013 Jam 5.30 waktu Jepang akhirnya kami mendarat di bandara Haneda Jepang. Setelah keluar pesawat kami menuju pemeriksaan imigrasi bandara. Kami memberikan paspor dan form isian tadi yang diisi di pesawat. Pertanyaannya tujuan ke Jepang dan juga jumlah uang yang kita bawa sebagai bekal selama berada di Jepang. Untungnya kami bisa berbahasa Inggris walau sedikit saja.  Setelah itu ada pemeriksaan wajah. Kita harus memandang alat tertentu semacam kamera sambil jari telunjuk kita ditempelkan di alat deteksi jari. Setelah selesai pemeriksaan, paspor kita distempel dan dikembalikan ke kita. Keluar dari pemeriksaan imigrasi, kita harus mengantri untuk mengambil tas bagasi kita yang sebelumnya kita serahkan di bandara Sukarno Hatta.


Setelah mengambil tas, kami menunggu adik saya yang memang sudah lama tinggal di Jepang untuk menjemput. Akhirnya tidak beberapa lama adik saya datang. Kemudian dia mengantar kita ke stasiun monorel kereta Jepang untuk menuju ke penginapan berupa apartemen yang sudah dipesan sebelumnya. Bandara Haneda Jepang ini sudah terhubung dengan stasiun monorel sehingga memudahkan untuk transportasi. 

Itu pengalaman kami berangkat ke Jepang.. Untuk pengalaman di Jepang lainnya tunggu posting berikutnya...

Pengalaman persiapan untuk pergi ke luar negeri, membuat paspor dan Visa

Sabtu kemarin 21 September 2013 kami sekeluarga berangkat ke Jepang untuk berkunjung ke wisuda adik saya yang baru lulus S2 di Universitas tokyo. O.. iya sebelum kami berangkat ke Jepang jauh sebelumnya kami sudah melengkapi dokumen seperti paspor, tiket pesawat dan visa Jepang.

Pengalaman membuat Paspor

Dokumen pertama yang kami siapkan untuk berpergian ke luar negeri tentunya adalah paspor. Untuk membuat pasport sekarang ini lebih mudah dan bisa dilakukan tanpa calo. Tiga bulan sebelum berangkat saya harus sudah membuat paspor jadi jangan membuat paspor secara mendadak. Ini pertama kalinya saya membuat paspor. Saat itu saya membuat paspor di imigrasi Jakarta Selatan. Persyaratan untuk membuat paspor yaitu membawa dokumen asli dan fotokopi KTP, kartu keluarga, akte kelahiran, dan Ijazah terakhir (kebetulan saya S1 jadi bawa ijazah S1 saya). Semuanya di fotokopi. Khusus fotokopi KTP harus dalam kertas A4 jangan dipotong seukuran KTP. 

Hari pertama membuat paspor saya datang ke imigrasi Jakarta Selatan dengan menaiki motor. Karena kita tahu Jakarta sangat macet terutama pagi hari. Usahakan datang pagi hari. Jam 7 pagi saya sudah sampai di kantor Imigrasi dan langsung ke tempat pengambilan formulir dan nomor antrian. Petugas akan memeriksa dokumen kita dan memberikan formulir dan nomor antrian. Petugas memberikan formulir beserta map dengan gratis tanpa biaya. Isi formulir sebelum nomor kita dipanggil karena akan menghambat antrian jika nomor kita sudah dipanggil tapi kitanya belum siap. Antriannya memang lama karena banyak yang mengajukan paspor. Setelah nomor dipanggil kita menyerahkan semua berkas di loket.. Hanya Fotokopian KTP,KK, akte kelahiran, ijasah dan formulir saja yang diambil petugas. Yang asli tidak diambil, hanya dicek saja. Setelah itu kita diberikan tanda terima bukti penyerahan dan disuruh datang 3 hari kemudian untuk pembayaran dan foto serta wawancara.

Hari kedua. Tiga hari kemudian kita kembali minta nomor antrian dengan menunjukkan tanda terima bukti penyerahan berkas di hari pertama ke petugas di pengambilan nomor antrian. Hari kedua ini kita harus memakai pakaian yang rapi karena akan difoto. O..iya dokumen asli seperti KTP, KK akte kelahiran dan ijasah dibawa juga karena akan diperiksa saat wawancara. Setelah menunggu 2 jam-an waktu itu saya langsung dipanggil ke loket pembayaran. Waktu itu saya membayar sekitar 255 ribu. Setelah selesai membayar kita disuruh menuju ke ruang foto dan disitu kita tunggu lagi sampai nomor kita dipanggil. Setelah menunggu sebentar saya dipanggil untuk foto. Di ruang foto kita diambil foto wajah dan sidik jari. Setelah difoto kita kemudian menunggu untuk wawancara.  Setelah dipanggil kita diwawancara untuk ditanyakan tujuan pembuatan paspor oleh petugas.   Waktu itu saya ditanyakan (seingat saya karena udah 3 bulan yg lalu) apa pernah membuat paspor sebelumnya. Saya jawab belum. Tujuan membuat paspor jawab saja untuk jalan-jalan. Kemudian dia menanyakan pekerjaan saya. Saya bilang wiraswasta karena memang wiraswasta kerja sendiri di rumah. Jawab saja yang jujur.  Nah karena saya wiraswasta kemudian saya disuruh untuk membuat pernyataan bekerja sebagai wiraswasta. Surat pernyataannya bisa dibeli di koperasi lengkap dengan meterai. Waktu itu seingat saya harga nya cuma 7000 saja. Saya isi dan tandatangan Terus saya kembali ke ruang wawancara menyerahkan surat pernyataan pekerjaan wiraswasta. Setelah itu petugas langsung memberikan tanda terima lagi untuk pengambilan paspor 4 hari kemudian.

Hari ketiga, 4 hari kemudian saya antri lagi untuk ambil paspor. Kali ini tidak perlu ke tempat pengambilan nomor antrian. Cukup masukkan tanda terima bukti untuk pengambilan paspor ke kotak tumpukkan di depan loket pengambilan paspor. Tunggu nama kita dipanggil dan setelah menerima paspor kita disuruh untuk fotokopi paspor tersebut. Fotokopi paspor bisa di koperasi imigrasi. Tukang fotokopi di koperasi imigrasi tentunya sudah tahu apa dan bagian mana yang harus difotokopy jadi kitanya tidak perlu menjelaskan lagi. Setelah itu, kita serahkan fotocopy tadi ke tempat kita menerima paspor tadi. Jadi kita hanya 3 kali datang ke kantor Imigrasi Jaksel dan cuma keluar duit 255 ribu + uang fotocopian + ongkos makan dll. Tugas membuat paspor sudah selesai.

Pemesanan tiket Pesawat

Untuk berhemat tentunya kita cari tiket pesawat yang murah tapi pelayanannya baik karena perjalanannya sangat jauh. Waktu itu kita memutuskan untuk membeli tiket di Singapore Airline (www.singaporeair.com) dengan harga USD 650 per orang. Tiket ini tidak langsung ke Jepang tapi harus transit dulu di Singapura. Tapi enggak kenapa karena pesawat yang langsung ke Jepang seperti Garuda, ANA atau JAL jatuhnya lebih mahal.

Membuat Visa di kedutaan Jepang
Untuk membuat Visa Jepang kita biasa baca persyaratan dan download formulir di http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html. Untuk membuat Visa kita tidak perlu datang sendiri dan bisa diwakilkan. Waktu itu kakak saya yang mengurus visanya ke kedutaan Jepang. Dokumen yang disiapkan adalah
- Formulir pengajuan Visa yang didownload dari  http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html.
- Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm)
- Foto kopi KTP
- Bukti pemesanan tiket. Tiket pesawat harus sudah dipesan sebelum mengajukan Visa Jepang.
- Jadwal Perjalanan.. Jadwal kegiatan kita nanti di Jepang rencananya mau ngapain aja.. Misal ke Disneyland etc..
- Dokumen yang membuktikan hubungan keluarga antara pemohon dengan pengundang. Waktu itu saya sertakan fotocopy akte kelahiran dan kartu keluarga.
- Fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Usahakan isi tabungan ada 15 juta atau lebih.
- Surat Undangan. (surat undangan contohnya bisa didownload situs kedubes jepang) Ini khusus jika kita berkunjung ke saudara atau teman yang ada di Jepang. Mereka bisa mengirim surat undangan ke kita untuk persyaratan pembuatan Visa.
- Paspor asli untuk ditempel visa
- Biaya pembuatan Visa Rp 350,000,-

Setelah semua berkas diserahkan hanya dalam 2-3 hari Visa Jepang sudah ditempel di halaman paspor kita.

Persiapan sebelum berangkat


Tentunya persiapan sebelum berangkat adalah fisik karena tentunya udara disana sangat berbeda dengan di Indonesia. Jika disana sedang musim dingin kita juga harus menyiapkan baju hangat. Disamping pakaian kita juga harus menyiapkan makanan karena kita tahu makanan di Jepang sangat mahal. Kebetulan penginapan kita nanti ada dapurnya jadi kita bisa masak sendiri. Makanan yang paling mudah yaitu mie Instant. Karena bawaan kita dibatasi tiap orang hanya 20 kg maka bawa saja yang diperlukan. Jangan lupa kita bawa tas kecil untuk tempat paspor dan uang. Sebelum berangkat kita bisa beli mata uang asing di money changer.

Ya itu pengalaman persiapan saya sebelum keluar negeri.